Hukun Yang Menyelamatkan

Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat." (Markus 2: 27-28)

Menerapkan aturan itu butuh hati. Tidak bisa peraturan ditetapkan tanpa pertimbangan. Beberapa hal yang harus jadi bahan pertimbangan adalah situasi dan kondisi, rasa keadilan, faktor sosial budaya dan sebagainya. Pada akhirnya harus disadari bahwa aturan itu untuk menyelamatkan manusia, bukan untuk menghukum manusia.

Demikian juga dalam menerapkan aturan dalam Alkitab pada kehidupan kita. Alkitab bertujuan untuk memberitakan keselamatan bagi semua umat manusia. Jadi tidak mungkin Alkitab diterapkan untuk mematikan manusia, merusak hidup manusia, menyakiti manusia.

Allah memberikan Yesus agar manusia berdosa bisa mempunyai kesempatan hidup baru. Kesempatan untuk bertobat, meraih hidup baru adalah nafas dari Alkitab.

Maka dalam Kekristenan hukum razam untuk penzina, hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi tidak lagi berlaku. Hukum yang berlaku adalah hukum kasih, saling mendahului dalam memberi hormat, saling membasuh, mendoakan musuh, mengampuni orang yang menyesal akan dosanya.

Hukum dalam Kekristenan adalah hukum yang menghidupkan, bukan hukum yang mematikan. Bahkan bukan hanya menyelamatkan nyawa secara duniawi, tetapi menyelamatkan manusia di kekelan nanti juga.


Popular Posts