Kebersamaan dalam Komunitas Gereja
Roma 12:15-16 (TB) Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!
Tepa Selira berarti mempedulikan orang lain di sekitar. Kalau teman kita bersukacita, kita ikut bersukacita untuknya. Kalau teman kita sedang bersedih, kita ikut merasa sedih bersama dia.
Hal ini hanya dapat terjadi kalau kita menjaga kebersamaan, punya rasa senasib dan sepenanggungan. Karena rasa kebersamaan itu, kita akan terdorong untuk saling bergotong royong, saling membantu dalam komunitas.
Tapi kebersamaan itu akan hancur kalau ada satu orang atau lebih yang tidak sejalan pikirannya dalam kelompok. Kalau ada orang dalam kelompok merasa lebih pintar dari yang lain, merasa lebih penting dari yang lain.
Kalau sudah begitu, suara anggota lain dalam kelompok akan disepelekan. Semua dipaksa mengikuti apa maunya.
Hal seperti ini juga bisa terjadi dalam komunitas gereja. Disaat ada orang atau sekelompok orang yang merasa paling berjasa karena banyak memberikan donasi. Atau ada yang merasa paling tahu karena paling senior dalam gereja. Atau ada yang merasa paling berjerih payah untuk gereja. Tapi mereka lupa, bahwa semua pemberian pada gereja, baik materi, waktu atau tenaga tidak boleh diperhitungkan sebagai donasi. Itu semua harusnya dipandang sebagai persembahan pada Tuhan. Tuhanlah yang seharusnya memberi balasan atas semua itu. Tapi masakan ada orang merasa paling berjasa pada Tuhan?
Di samping itu kita juga harus membawa kelompok berjalan sesuai kemampuan semua anggotanya. Jangan terlalu muluk untuk mengejar tujuan di luar kemampuan para anggotanya. Contohnya kalau keuangan jemaatnya rata-rata tidak terlalu kuat, jangan paksakan untuk merenovasi gedung gereja terlalu mewah. Sesuaikanlah dengan kemampuan jemaatnya.
Jemaat yang saling peduli, saling tepa selira, yang bahu-membahu untuk mencapai tujuan bersama, itu yang dimaui oleh Tuhan. Jangan pernah ada anggota jemaat yang merasa dirinya paling berjasa atau paling penting dalam komunitas gereja.
