Menghormati Orang Miskin
Yakobus 2:2-4 (TB) Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!", bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?
Semua manusia berharga di mata Tuhan. Bukan karena kepintarannya, bukan karena jabatannya, bukan karena kekayaannya. Semua kepintaran, jabatan dan kekayaan itu anugerah dari Tuhan yang harus disyukuri dan dipertanggungjawabkan. Bukannya malah untuk disombongkan, apalagi dipakai untuk merendahkan orang lain.
Mungkin bagi dunia, orang yang punya duit, berjabatan tinggi dan pintar lebih berharga dari yang kurang beruntung. Mereka yang berpunya mungkin dianggap lebih menguntungkan dan harus dihormati. Tapi dalam perkumpulan ibadah atau persekutuan gereja, membedakan orang atas status sosial adalah suatu yang jahat di mata Tuhan.
Dalam persekutuan gereja, semua orang baik kaya atau miskin, pintar atau bodoh, berjabatan tinggi atau dari kalangan biasa harus sama-sama dihormati, dipandang sebagai saudara seiman.
Bahkan mereka yang memiliki anugerah lebih seharusnya membantu yang lemah. Alkitab berkata bahwa yang banyak diberi juga akan dituntut lebih oleh Tuhan. Anugerah Tuhan tidak boleh dipakai sebagai alasan untuk menuntut penghormatan yang lebih. Sebab kita harus ingat bahwa anugerah itu asalnya dari Tuhan. Anugerah justru menuntut tanggung jawab kita agar bisa menjadi saluran berkat bagi sesama.
Dalam Alkitab dicatat, Yesus pernah mengapresiasi persembahan seorang janda miskin di Bait Suci. Janda itu hanya memasukkan 2 peser uang, yang nominalnya sangat sedikit dibanding persembahan orang-orang kaya. Tapi Yesus menyatakan bahwa persembahan janda miskin itu di mata Allah lebih banyak dari pada persembahan orang kaya. Sebab janda miskin itu memberi dari kekurangan, yaitu seluruh nafkahnya.
Jadi kalau Tuhan menghormati persembahan janda miskin, kita juga harus melakukan hal yang sama. Jangan sampai kita lebih menghormati seseorang karena dia kaya, dan memandang sebelah mata seseorang karena dia miskin. Itu sama saja dengan menghakimi dan hal itu adalah jahat di mata Tuhan.