Menilai Dengan Adil
Amsal 24 : 23-25 (TB)
Juga ini adalah amsal-amsal dari orang bijak.
Memandang bulu dalam pengadilan tidaklah baik.
Siapa berkata kepada orang fasik: "Engkau tidak bersalah",
akan dikutuki bangsa-bangsa, dilaknatkan suku-suku bangsa.
Tetapi mereka yang memberi peringatan akan berbahagia,
mereka akan mendapat ganjaran berkat.
Manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi satu sama lainnya. Perselisihan antar manusia kadangkala terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ada perselisihan yang bisa mudah diselesaikan, tapi ada juga yang menjadi berlarut-larut, bahkan sampai menjadi urusan hukum.
Bela-membela adalah hal yang lumrah dalam perselisihan. Membela anak, keluarga, teman atau golongan sendiri dalam perselisihan kerap kita lakukan. Ayat ini mengingatkan kita bahwa kita tetap tidak boleh membela yang salah, walau itu anak, saudara, sahabat atau golongan kita. Kita harus tetap berlaku adil, dan mengingatkan yang salah agar memperbaiki kelakuannya. Jangan sampai dalam hal bela-membela kita berlaku tidak adil, apalagi kalau sampai kita berpihak pada kejahatan.
Contohnya kalau kita punya anak kecil, dan anak kita bertengkar dengan teman sekolahnya. Kalau kita tahu bahwa anak kita yang salah, jangan kita bela. Justru kita harus mendorong anak kita untuk mengakui kesalahannya, meminta maaf, dan memperbaiki kelakuannya. Kalau anak kita salah, malah kita bela berarti kita sudah menilai dengan pandang bulu, artinya menilai dengan tidak adil. Hal ini merugikan orang yang benar, sekaligus akan menjerumuskan anak kita sendiri pada tabiat yang buruk.
Kesalahan harus ditegor, walau yang melakukannya adalah pihak yang sekubu dengan kita. Setiap perilaku buruk tidak boleh dibela, tapi justru harus diingatkan dan diperbaiki.
Maka berhati-hatilah kalau dalam urusan bela-membela. Jangan sampai kita malah menjadi pembela kejahatan dan menjerumuskan orang yang kita kasihi dalam tabiat buruknya.
